
PEKANBARU, HALAMANRIAU.COM– Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 4,43 persen pada Januari 2026. Inflasi tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) Riau yang berada di level 111,70.
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Riau, Fitri Hariyanti, mengatakan inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan dengan angka mencapai 6,38 persen dan IHK sebesar 112,18. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Kampar sebesar 3,70 persen dengan IHK 112,54.
“Secara umum, inflasi tahunan di Riau dipicu oleh kenaikan harga pada delapan kelompok pengeluaran,” kata Fitri dalam keterangan resminya, Senin (2/2/2026).
Fitri menjelaskan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan mencapai 17,97 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 12,14 persen, serta kelompok pendidikan sebesar 5,05 persen.
Selain itu, inflasi juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,95 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,57 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 2,27 persen, kelompok kesehatan 1,19 persen, serta kelompok transportasi 0,67 persen.
Di sisi lain, tiga kelompok pengeluaran justru mengalami deflasi secara tahunan, yakni kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,11 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,41 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen.
Sementara itu, secara bulanan (month to month/m-to-m), Riau mengalami deflasi sebesar 0,45 persen pada Januari 2026. Angka deflasi yang sama juga tercatat secara kumulatif sejak awal tahun (year to date/y-to-d) sebesar 0,45 persen.
“Perkembangan harga sepanjang Januari 2026 secara umum menunjukkan kenaikan. IHK Riau meningkat dari 106,96 pada Januari 2025 menjadi 111,70 pada Januari 2026,” ujar Fitri.
Menurutnya, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi y-on-y antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, biaya pendidikan akademi dan perguruan tinggi, ikan serai, ayam hidup, beras, sepeda motor, ikan tongkol, sigaret kretek mesin (SKM), serta sewa rumah.
Selain itu, inflasi juga didorong oleh harga nasi dengan lauk, cabai rawit, telur ayam ras, jeruk, bawang merah, bayam, bakso siap santap, sigaret kretek tangan (SKT), ikan kembung, ketupat lontong sayur, dan sawi putih.
Sebaliknya, sejumlah komoditas memberikan andil deflasi secara tahunan, di antaranya cabai merah, kentang, jengkol, bawang putih, sabun detergen bubuk, tarif parkir, sabun cair, bensin, ikan baung, masker, angkutan udara, gula pasir, minyak goreng, serta buah naga.
Untuk deflasi bulanan, komoditas utama penyumbang penurunan harga antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, buncis, angkutan udara, telur ayam ras, bensin, cabai hijau, dan kelapa.
Sementara komoditas yang mendorong inflasi m-to-m meliputi emas perhiasan, ayam hidup, sepeda motor, tomat, bayam, sawi putih, daging ayam ras, kangkung, serta ikan nila.
Dari sisi kontribusi kelompok pengeluaran, inflasi y-on-y terbesar disumbang oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,45 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 1,30 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,99 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,26 persen.
Kelompok pendidikan memberikan andil inflasi sebesar 0,23 persen, pakaian dan alas kaki 0,14 persen, transportasi 0,09 persen, dan kesehatan 0,03 persen.
Sementara kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mencatat andil deflasi sebesar 0,05 persen.
“Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat tidak memberikan andil inflasi maupun deflasi yang signifikan,” pungkas Fitri.