Keprihatinan Mendalam atas Insiden Kekerasan terhadap Sahabat PMII, DPD IMM Riau kecam Upaya Pembungkaman suara Kritis Mahasiswa

PEKANBARU, HALAMANRIAU.COM- Malam ini, ruang demokrasi dan mimbar akademik di Kota Pekanbaru kembali diinjak-injak dengan cara yang paling pengecut, biadab, dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Niat luhur mahasiswa untuk merawat nalar kritis melalui sebuah wadah Diskusi Interaktif yang secara khusus membedah persoalan represifitas aparat serta menguji sejauh mana kecacatan reformasi Polri, justru harus dijawab dengan teror fisik yang membabi buta. Tindakan pengeroyokan dan pemukulan yang dilakukan oleh gerombolan preman atau Orang Tak Dikenal (OTK) terhadap sahabat-sahabat penyelenggara diskusi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah sebuah kejahatan demokrasi akut yang sama sekali tidak bisa ditoleransi di negara hukum dan menjunjung Hak Asasi Manusia ini.

Kami menegaskan bahwa rentetan teror berdarah malam ini bukanlah sekadar tindak pidana penganiayaan jalanan biasa, melainkan sebuah bentuk keji dan sistematis dari upaya pembungkaman suara kritis mahasiswa. Sangat jelas terlihat bahwa ada pihak-pihak yang ketakutan setengah mati terhadap kebenaran yang sedang kita suarakan dan telanjangi di mimbar-mimbar publik. Ironisnya, kekerasan ini terjadi tepat ketika kita sedang mempertanyakan keadilan dan prosedur hukum aparat negara. Taktik menggunakan “hantu sipil” atau menyewa otot jalanan untuk menyerang para aktivis adalah cara-cara usang, primitif, dan sangat pengecut dari mereka yang miskin gagasan dan tidak mampu beradu argumen secara ksatria. Kebebasan berpendapat yang dijamin oleh konstitusi kini sedang direnggut paksa oleh tangan-tangan kotor premanisme.

Atas tragedi yang memilukan ini, Dewan Pimpinan Daerah IMM Riau menyampaikan rasa keprihatinan yang sedalam-dalamnya sekaligus menyatakan sikap solidaritas penuh tanpa batas untuk sahabat-sahabat PMII. Sakit yang dirasakan oleh kader PMII malam ini adalah sakit yang sama yang menusuk jantung seluruh kader IMM. Darah yang menetes dari kawan-kawan seperjuangan adalah duka mendalam, yang sekaligus menjadi sulut amarah bagi seluruh elemen gerakan mahasiswa di bumi Riau. Pesan kami jelas, kalian tidak pernah berjuang sendirian. IMM akan senantiasa berdiri rapat, kokoh, dan bersaf-saf di barisan kalian untuk melawan segala bentuk arogansi kekuasaan ini. Sebuah ancaman terhadap satu elemen gerakan mahasiswa, adalah ancaman terhadap seluruh mahasiswa.

Mengingat kejadian ini terjadi secara terang-terangan di wilayah hukum Kota Pekanbaru, kami mendesak aparat kepolisian, khususnya Polresta Pekanbaru, untuk segera bertindak nyata memburu, menangkap, dan membongkar tuntas siapa dalang serta aktor intelektual di balik para preman bayaran ini. Kepolisian sedang diuji. Jika polisi membiarkan kasus ini menguap lambat laun, atau kembali berlindung di balik dalih klise sulitnya mencari identitas pelaku di tengah keramaian kota, maka kecurigaan publik akan semakin mengeras menjadi sebuah kenyataan pahit bahwa memang ada pembiaran terstruktur, restu terselubung, dan simbiosis kotor antara aparat penegak hukum dengan kelompok premanisme untuk meredam gelombang perlawanan mahasiswa.

Kepada seluruh kawan-kawan gerakan, pimpinan organisasi, dan aliansi mahasiswa se-Riau, jadikan peristiwa malam ini sebagai saksi bahwa perjuangan kita mulai menggetarkan nyali para penindas. Teror, ancaman, hingga darah yang tumpah malam ini tidak akan pernah mampu membuat kita mundur satu sentimeter pun. Sebaliknya, ini adalah bahan bakar abadi untuk melipatgandakan perlawanan, menyatukan barisan yang sempat terserak, dan menjemput langsung keadilan yang telah diobok-obok di jalanan. Kebenaran tidak akan pernah mati hanya karena dipukuli!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *