Menjadikan Ramadhan Sebagai Titik Balik Perubahan

HALAMANRIAU.COM- Sebagaimana yang telah dimaklumi, secara harfiah Ramadhan bermakna pembakaran (ramdhan). Maksudnya ialah membakar dosa-dosa yang dilakukan selama satu tahun belakangan.

Kehadiran bulan mulia ini sebagai tolak ukur bagi seorang muslim apakah pasca Ramadhan akan terjadi perubahan secara signifikan atau justru masih terbelenggu dengan kebiasaan-kebiasaan buruk selama ini?.

Pada dasarnya perubahan itu dapat dilihat dari beberapa aspek seperti perubahan pada spritual, moral dan intelektual. Seorang yang melakukan ibadah puasa sesuai aturan Islam pasti akan memberi dampak pada tiga instrumen tersebut.

Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Inti ibadah puasa ialah takwa, darinya lahir berbagai macam kebaikan. Maka oleh karena itu sesungguhnya proses transformasi spiritual sedang berlangsung kala berpuasa, yaitu sebuah perubahan yang terjadi pada amal dan moral. Di balik itu juga diharapkan transformasi intelektual juga berlaku. Karena sesungguhnya orang yang sering berpuasa dapat mencerdaskan akal.

Imam Al-Ghazali berkata: Sesungguhnya kekenyangan menimbulkan kebodohan, membutakan hati, serta memperbanyak uap di otak yang menyerupai keadaan mabuk, sehingga menghambat unsur-unsur pemikiran. Akibatnya, hati menjadi berat untuk mengalirkan gagasan dan mempercepat daya tangkap. (Ihya ulumiddin, 3/84)

Dapat disimpulkan bahwa kenyang menumpulkan otak sedangkan berpuasa (lapar) mencerdaskan intelektual.

Ali bin Thalib berkata:

مَنْ قَلَّ طَعَامُهُ صَفَا ذِهْنُهُ

“Barang siapa sedikit makannya, jernihlah akalnya.

Dengan demikian, bulan Ramadhan bukan saja ajang meningkatkan spiritual, namun lebih daripada itu, ia diharapkan menjadi wasilah dalam transformasi moral dan intelektual.

 Apa yang dilakukan oleh ulama salafussaleh harus mampu dicontoh oleh umat ini terutama dalam menghadapi kehidupan yang serba kompleks seperti yang kita rasakan dewasa ini.

Platform media sosial hari ini mempertontonkan berbagai macam bentuk tindakan kriminal dan degredari nilai-nilai moralitas yang notabene dilakukan umat Islam, seakan puasa bertahun-tahun tidak berdaya membentuk pribadi yang hebat spiritual, moral dan intelektual. Tentu hal ini menjadi pikiran bersama, apakah ibadah puasa salah atau justeru cara melakukannya yang salah?.

Maka mulai hari ini, kehadiran Ramadhan harus benar-benar dipahami sebagai sesuatu yang istimewa bukan sekedar menahan haus dan lapar. Ia dijadikan sebagai awal dari setiap aspek perubahan kehidupan. Al-Qur’an yang turun dimanfaatkan sebagai petunjuk yang menuntun ke jalan yang benar.

Allah swt berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu pembeda (antara hak dan batil) (QS. Al-Baqarah: 185).

Kata al-huda (petunjuk) dan al-furqan (pembeda) pada ayat di atas bermakna menyelamatkan manusia dari kesasatan menuju kebenaran. Maka dengan demikian dapat dipahami bahwa Ramdhan adalah bulan transformasi iman, moral dan cara pandang terhadap dunia.

Tiga komponen ini sangat penting kala menjalani kehidupan. Tanpanya akan tersesat dari jalan kebenaran yang berakibat rugi dunia dan akhirat.

Menurut Ibnu Abbas, hudan linnas (petunjuk bagi manusia) ialah menjelaskan jalan-jalan kesesatan sedangkan al-furqan (pembeda) yaitu seorang mukmin mampu memilah antara halal dan haram, hukum-hukum yang berlaku dan menjauhi perkara syubhat. (Tanwir al-Miqbas, 1/25)

Perubahan (change/tahawwul) yang diperoleh kala menjalani madrasah harus berdampak pada konteks kehidupan sosial.

Wandi Bustami lahir di Padang Sawah, 13 Januari 1989. Ia menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Mesir, Universitas Darussalam Gontor, dan tengah melanjutkan program doktoral pada bidang Akidah dan Filsafat Islam. Ia aktif sebagai dosen dan tenaga pengajar di pesantren serta produktif menulis karya-karya di bidang akidah dan kajian Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *