Dakwah di Era Digital

HALAMANRIAU.COM- Di zaman sekarang, dakwah tidak hanya dilakukan di masjid atau majelis pengajian. Dakwah juga terjadi lewat HP di tangan kita: lewat WhatsApp, Facebook, Instagram, dan media sosial lainnya.

 Apa yang kita kirim, bagikan, dan tulis, semuanya bisa menjadi dakwah, bisa juga menjadi dosa. Karena itu, Ramadhan mengajarkan kita agar berdakwah dengan cara yang baik, terutama di dunia digital. Allah SWT berfirman:“Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Berdakwah di era digital harus dilakukan dengan akal sehat, hati yang lembut, dan niat yang baik, bukan dengan marah-marah atau saling menghina.

Dakwah Digital Harus Peduli pada Sesama

Di media sosial, kita sering melihat orang pamer kekayaan, liburan mewah, dan kehidupan serba enak. Tapi di sekitar kita, masih banyak orang yang hidup susah: tetangga yang kehilangan pekerjaan, pedagang kecil yang sepi, dan buruh yang penghasilannya pas-pasan.

Dakwah di Ramadhan tidak boleh hanya bicara surga dan neraka, tapi juga mengajak peduli pada sesama. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kebencian membuat kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Seorang pemikir Islam, Ali Syariati, pernah berkata: “Agama bukan untuk membuat orang lupa pada penderitaan, tetapi untuk membangunkan kepedulian.” Artinya, dakwah harus menguatkan rasa kemanusiaan, bukan sekadar mencari pengikut atau like.

Hati-Hati Menyebarkan Berita

Di grup WhatsApp dan media sosial, berita sering beredar tanpa jelas asalnya. Kalau kita langsung menyebarkan tanpa memastikan kebenarannya, bisa jadi kita ikut menyebarkan fitnah.

Allah SWT berfirman: “Jika datang kepadamu suatu berita, maka periksalah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Rasulullah ﷺ bersabda: “Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menyampaikan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim).

Dakwah digital harus menenangkan, bukan memecah belah.

Gunakan Media Sosial untuk Kebaikan

Media sosial adalah alat. Bisa dipakai untuk kebaikan, bisa juga untuk keburukan. Di bulan Ramadhan, mari kita gunakan media sosial untuk:

  1. Mengajak berbagi dan bersedekah
  2. Menguatkan orang yang sedang kesulitan
  3. Menyebarkan pesan damai dan persaudaraan

Allah SWT berfirman: “Dan pada harta mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta.” (QS. Adz-Dzariyat: 19).

Seorang ulama besar, Imam Al-Ghazali, berkata: “Ilmu dan nasihat seharusnya membuat manusia lebih baik, bukan lebih sombong.”

Akhlak Tetap yang Utama

Walaupun berdakwah lewat layar, akhlak tetap nomor satu. Jangan menghina, jangan mencela, jangan merasa paling benar. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau lisan dijaga, jari di media sosial juga harus dijaga. Ramadhan mengajarkan kita bahwa dakwah bukan hanya lewat ceramah, tapi juga lewat sikap dan perilaku, termasuk di dunia digital.

Jika di bulan Ramadhan ini kita:

  1. Lebih berhati-hati dalam berbagi informasi
  2. Lebih peduli pada kesulitan orang lain
  3. Lebih sopan dan santun di media sosial

Jika hal ini ada dan tumbuh dalam diri kita, maka kita telah berdakwah sesuai dengan nilai Islam dan semangat Ramadhan.

Abdul Hafidz AR, S.IP. lahir di Bantar pada 12 Maret 1990. Ia adalah penulis dan aktivis sosial yang aktif mengulas isu sosial, politik, dan kemasyarakatan melalui berbagai media daring. Berbasis di Pekanbaru, ia terlibat aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan dakwah Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *