Puasa: Empati Sosial dan Kepedulian Ummat

HALAMANRIAU.COM- Hidup sering membuat kita sibuk, cepat, dan fokus pada urusan masing-masing. Kita berangkat pagi, pulang malam, bertemu banyak orang tapi jarang saling mengenal. Di tengah kehidupan seperti ini, puasa hadir sebagai pengingat agar hati kita tidak ikut menjadi dingin dan acuh.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Taqwa bukan hanya soal rajin ibadah, tapi tetap punya rasa peduli di tengah kesibukan dan individualisme.

Puasa di Tengah kondisi yang Serba Cukup

Disaat ini, makanan mudah dicari. Buka puasa bisa di restoran, kafe, atau pesan lewat aplikasi. Tapi di balik gemerlap kota, ada banyak orang yang berbuka seadanya, buruh harian, pedagang kecil, petugas kebersihan, ojek online, dan pekerja informal.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang yang kenyang, sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Thabrani)

Hadits ini sangat relevan dengan keadaan sekarang, dimana orang bisa tinggal bertahun-tahun tanpa mengenal tetangga sebelah rumah atau apartemen.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata: “Puasa melembutkan hati dan menumbuhkan kasih sayang kepada orang miskin.”

Puasa Mengajak Kita Melihat Sekitar

Puasa bukan hanya menahan lapar, tapi melatih kepekaan sosial. Di kota, orang miskin sering “tidak terlihat”, padahal ada di sekitar kita: satpam, OB, sopir, tukang parkir, dan pedagang kecil.

Allah SWT berfirman: “Dan pada harta mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)

Artinya, penghasilan kita gaji bulanan, bonus, atau THR ada bagian orang lain di dalamnya. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: “Kemiskinan bukan takdir, tetapi akibat dari ketidakadilan.”

Puasa Melawan Gaya Hidup Berlebihan

Dewasa ini, tanpa disadari kehidupan zaman sekarang menawarkan banyak godaan: belanja, makan mewah, pamer di media sosial. Puasa datang untuk mengoreksi gaya hidup berlebihan. Allah SWT berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)

Imam Al-Ghazali mengingatkan: “Cinta dunia yang berlebihan dapat merusak nilai ibadah.”

Puasa mengajarkan bahwa hidup sederhana bukan kekurangan, tapi pilihan sadar.

Dari Empati ke Aksi Nyata

Empati harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata:

  1. Berbagi takjil bukan sekadar tradisi, tapi perhatian pada sesama
  2. Zakat dan sedekah bukan formalitas, tapi alat membantu yang kesulitan
  3. Peduli lingkungan, adil di tempat kerja, dan tidak menipu adalah bagian dari puasa

Rasulullah ﷺ bersabda: “Kaum mukmin itu seperti satu tubuh; jika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Umar bin Khattab r.a. berkata: “Kalau ada orang kelaparan di negeriku, aku takut Allah akan menuntutku.”

Puasa seharusnya membuat kita lebih peka, bukan semakin individualis. Lebih peduli, bukan semakin sibuk dengan diri sendiri.

Jika setelah Ramadhan kita: Lebih peduli pada orang sekitar, Lebih jujur dalam pekerjaan, Lebih sederhana dalam hidup, maka puasa telah menjadi ibadah yang menghidupkan hati kita.

Abdul Hafidz AR, S.IP. lahir di Bantar pada 12 Maret 1990. Ia adalah penulis dan aktivis sosial yang aktif mengulas isu sosial, politik, dan kemasyarakatan melalui berbagai media daring. Berbasis di Pekanbaru, ia terlibat aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan dakwah Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *