BENTENGHULU, HALAMANRIAU.COM- Masyarakat Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau cemas dan takut melakukan aktivitas di luar rumah setelah seekor harimau sumatera diketahui berkeliaran di kampung tersebut. Kehadiran hewan dilindungi itu diketahui setelah terekam kamera CCTV dari salah satu rumah warga.
Hingga hari ini harimau belum tertangkap atau bahkan belum dipastikan meninggalkan kampung Benteng Hulu. Kondisi ini menyebabkan rasa was-was akan kemunculan yang tak terduga dan suatu saat bisa mengancam nyawa mereka. “Kami sangat resah dan takut, tetangga juga begitu. Masyarakat takut ke kebun untuk memanen. Saya juga was-was kalau mau cari rumput untuk pakan ternak,” ujar salah seorang warga, Masruri.
Sebelumnya Masruri harus merelakan dia ekor kambing ternaknya hilang yang diduga dimangsa harimau. Sejak saat itu dirinya ndan keluarga cemas kalau keluar rumah, terutama pada jam rawan dari 18.00 malam hingga 8.00 WIB pagi.
Masruri mengaku sejak kambingnya hilang, dirinya harus berjaga malam hari takut jika tiba-tiba harimau kembali datang. Ia juga telah melaporkan kejadian itu ke pemerintah kecamatan, tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Siak, TNI dan aparat kepolisian setempat atas munculnya harimau. Petugas juga telah turun ke lokasi dan baru memasang kamera trap untuk memantau aktifitas hewan buas tersebut. “Waktu itu udah pasang kamera trap, tapi ya sekedar itu saja, belum ada upaya untuk menangkap dan memindahkan harimau itu ke habitatnya,” ungkapnya.
Baru-baru ini kehadiran harimau terekam CCTV yang terpasang di rumah Dewi Rahayu, tetangga dekat Masruri. Harimau sumatera terlihat masuk di pekarangan belakang rumah pada Jumat (6/2/20206) sekitar jam 22.00 malam.
Dewi mengaku, sejak harimau terlihat ia dan keluarganya semakin takut untuk keluar malam, kebetulan kamar mandi dan toiletnya berada di luar rumah berdekatan dengan kandang angsanya di belakang rumah. Ia meminta kepada pihak berwenang agar segera mengambil langkah untuk mengevakuasi satwa liar yang dilindungi itu.
Sementara itu, Kepala BPBD Siak, Novendra Kasmara menyampaikan telah berkoordinasi dengan BBKSDA yang memiliki kewenangan untuk menangani satwa dilindungi tersebut. Ia meminta agar BBKSDA melakukan langkah konkrit untuk mengevakuasi satwa itu agar tidak terjadi konflik.
“Kita sudah koordinasi ke BBKSDA, penanganan itu kewenangan mereka karena itu satwa dilindungi. Kami turun langsung ke lokasi bersama aparat dan memberi imbauan ke masyarakat, sembari menunggu bagaimana langkah-langkah apa yang akan dilakukan BBKSDA,” katanya.