
Jakarta — Xiaomi kembali menjadi sorotan terkait sistem pembaruan perangkat lunaknya. Skema distribusi update berbasis wilayah yang saat ini diterapkan dinilai membingungkan pengguna dan kurang efisien dalam menghadirkan pengalaman perangkat lunak yang konsisten secara global.
Berbeda dengan pendekatan terpusat yang digunakan Apple pada ekosistem iPhone, Xiaomi melalui HyperOS masih mengandalkan pembaruan terpisah untuk berbagai wilayah seperti Global, Eropa (EEA), India, Taiwan, dan China. Setiap wilayah memiliki nomor versi dan file ROM tersendiri, meskipun sebagian besar isi sistem sebenarnya serupa.
Kondisi tersebut dinilai memicu kebingungan pengguna terkait status pembaruan perangkat mereka, sekaligus memperlambat adopsi fitur baru.
Nomor Versi Berbeda, Persepsi “Tertinggal” Update
Salah satu persoalan utama terletak pada perbedaan nomor versi HyperOS antarwilayah. Dalam praktiknya, perangkat di pasar global kerap menerima pembaruan dengan nomor versi lebih rendah dibandingkan versi Eropa, meski membawa fitur dan patch keamanan yang identik.
Situasi ini membuat sebagian pengguna mengira perangkat mereka tertinggal pembaruan, padahal sistem yang digunakan sudah berada pada versi terbaru secara fungsional. Pengamat teknologi menilai perbedaan tersebut mencerminkan kurangnya standarisasi dalam sistem distribusi update Xiaomi.
Sejumlah analis menyarankan agar Xiaomi menerapkan nomor build utama yang sama untuk seluruh wilayah. Jika distribusi serentak secara global sulit dilakukan, penyederhanaan menjadi beberapa ROM utama—misalnya Global, India, dan China—dinilai dapat menjadi solusi kompromi.
Fragmentasi ROM Dinilai Tidak Efisien
Selain soal penomoran versi, struktur distribusi HyperOS juga dinilai kurang efisien. Saat ini, Xiaomi harus menyediakan paket ROM berukuran besar sekitar 5–6 GB untuk tiap wilayah, meskipun diperkirakan lebih dari 90 persen file sistem di dalamnya identik.
Perbedaan antarwilayah umumnya hanya mencakup aplikasi bawaan, sertifikasi lokal, pengaturan jaringan, dan konfigurasi tertentu. Kondisi ini dinilai membebani proses pengembangan dan distribusi update.
Solusi yang banyak diusulkan adalah penerapan sistem modular, dengan memisahkan konfigurasi regional ke partisi khusus seperti cust partition. Dengan pendekatan tersebut, Xiaomi cukup menyediakan satu sistem inti, sementara penyesuaian wilayah dilakukan secara otomatis saat proses aktivasi perangkat.
Dampak pada Pengguna dan Keamanan
Perbedaan jadwal rilis update antarwilayah juga memicu praktik manipulasi region oleh sebagian pengguna. Tidak sedikit pengguna yang mengubah wilayah perangkat ke negara tertentu demi mendapatkan pembaruan lebih cepat.
Praktik ini berpotensi menimbulkan risiko keamanan dan ketidakstabilan sistem, karena perangkat menjalankan konfigurasi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan wilayah pengguna. Sistem pembaruan yang lebih seragam dinilai dapat menghilangkan kebutuhan akan praktik semacam ini.
Dorongan Menuju Sistem Update Terpadu
Sebagai salah satu produsen smartphone terbesar di dunia, Xiaomi dinilai perlu menyederhanakan model distribusi HyperOS untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan pengguna. Sistem update terpadu dengan basis perangkat lunak universal diyakini dapat mempercepat proses debugging, meningkatkan stabilitas sistem, serta mempercepat distribusi fitur baru.
Jika perubahan ini diterapkan, Xiaomi berpotensi menghadirkan pengalaman sistem operasi yang lebih konsisten, aman, dan mudah dipahami bagi pengguna di berbagai negara—sekaligus mendekati standar pembaruan yang telah lama diterapkan oleh para pesaing di segmen premium.