
HALAMANRIAU.COM- Niat adalah fondasi dari setiap tindakan yang dilakukan dengan sadar dan sengaja. Artinya, tak seorang pun yang sedang melakukan sesuatu dengan sadar dan sengaja, kecuali ia pasti sudah punya niat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ
“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS.Al-An’am : 162)
Ayat secara eksplisit dan implisit telah menegaskan bahwa niat adalah orientasi atas seluruh sikap, perbuatan, ibadah, hidup dan mati, hanya tertuju untuk mencari ridho Allah.SWT; “Lillahi ta’ala.”
Ini menegaskan bahwa niat yang baik dapat membawa kita kepada kebaikan dan kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Niat adalah muatan iman, karena niat yang benar pasti berawal dari iman yang benar. Ketika kita memiliki niat yang benar, maka fungsi jiwa akan mendorong kita untuk melakukan sesuatu ke arah yang benar dan dengan cara yang benar sesuai dengan syari’at. Inilah orientasi jiwa yang membuat kita merasa lebih bahagia dan puas dengan apa yang kita lakukan.
Menurut Ibnu Katsir, niat haruslah ikhlas yang benar-benar mencari ridho Allah SWT semata. Beliau berpendapat bahwa niat yang tidak ikhlas dan tidak benar dapat membuat amal menjadi tidak sah dan tidak akan diterima di sisi Allah SWT.
Dalam tafsirnya tentang surat Al-Bayyinah ayat 5, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah SWT hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat yang ikhlas. Karena niat yang tidak ikhlas dapat membuat amal menjadi sia-sia dan tidak bernilai di sisi Allah SWT.
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ ۙ ○ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَا تِهِمْ سَاهُوْن○َ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُوْنَ ۙ
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya,”(QS.Al-Ma’un : 4-6)
Shalat adalah ibadah yang paling utama dalam agama Islam. Tapi celakalah orang yang shalat tersebab lalai dan riya’. Karena lalai adalah indikasi iman yang tak benar dan riya’ adalah indikasi niat yang tak benar, maka celakalah ia dalam segala amalnya.
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa niat dan keikhlasan hati sangat penting dalam beribadah dan beramal. Oleh karena itu, kita harus selalu berusaha untuk membersihkan atau meluruskan niat kita dan memastikan bahwa niat kita hanya untuk mencari ridho Allah SWT semata.
وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَا تِ اللّٰهِ ۗ وَ اللّٰهُ رَءُوْفٌ بِۢا لْعِبَا دِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”(QS.Al-Baqarah : 207)
Niat yang baik dapat membawa kita kepada ridho Allah SWT. Dan atas ridho-Nya, maka kita akan meraih kebaikan dan kesuksesan. Kita akan lebih fokus dan tekun dalam mencapai tujuan hidup dengan cara-cara yang benar.
Di sisi lain, niat yang baik dan benar dapat membawa kita kepada pahala dari Allah SWT, dan sesungguh pahala adalah nilai atas seluruh kebaikan yang memberi efek positif ke dalam jiwa, karena Allah SWT melihat niat kita dan membalasnya dengan pahala yang sesuai. Pencapaian hidup atau keberhasilan kita di dunia ini adalah refleksi niat yang mesti diorintasikan kepada kehidupan akhirat. Allah. SWT berfirman;
وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS.Al-Qashas : 77)
Ayat ini menjelaskan tentang pentingnya mengorientasikan hidup dengan niat yang benar, sehingga kita dapat mencapai tujuan hidup kita dan mendapatkan kebahagiaan di dunia.
Ketika kita menata niat dengan baik, maka sesungguhnya kita sedang menata hidup kita dengan lebih baik untuk mencapai kebahagiaan hidup yang kita inginkan.
Hadi Yalman, S.H.I., M.H. lahir di Palau Sialang pada 15 Desember 1984. Ia menyelesaikan pendidikan Magister (S2) di UIN Sultan Syarif Kasim Riau pada Program Studi Hukum Keluarga Islam. Saat ini berprofesi sebagai dosen di IPTAR. Selain aktif di dunia akademik, ia juga terlibat dalam kegiatan dakwah dan keorganisasian, di antaranya di Majelis Tabligh Muhammadiyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau, Dewan Masjid Indonesia, serta Korps Muballigh Muhammadiyah Kota Pekanbaru.