HALAMANRIAU.COM- Banyuwangi dikenal sebagai “The Sunrise of Java” karena pesona alamnya yang lengkap. Namun di balik kekayaan alamnya, ada satu destinasi budaya yang sering membuat wisatawan betah berlama-lama, yaitu Desa Wisata Adat Osing Kemiren.
Desa Wisata Osing Kemiren baru-baru ini masuk 20 daftar desa terpilih dalam Program Peningkatan atau The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025, yang ditetapkan oleh United Nations Tourism (UN Tourism) atau Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Daya tarik yang diunggulkan di Desa Wisata Osing Kemiren yaitu nilai budaya, adat istiadat, seni, serta kearifan lokal.
Berikut rangkuman lengkap tentang apa saja yang membuat desa wisata ini begitu istimewa.
1. Bagian Penting dari Ijen Geopark
Desa Osing Kemiren berada di Kecamatan Glagah dan masuk dalam kawasan Ijen Geopark sebagai culture site. Artinya, desa ini bukan sekadar tempat tinggal masyarakat adat, tetapi juga diakui secara internasional sebagai kawasan dengan nilai geoheritage dan budaya yang harus dilestarikan. Lokasinya juga strategis karena berada di jalur menuju Kawah Ijen, sehingga jadi perhentian ideal untuk wisatawan yang ingin merasakan suasana budaya sebelum menuju alam.
2. Rumah Adat Osing yang Masih Berdiri Kokoh
Begitu memasuki kawasan desa, pengunjung akan melihat deretan rumah adat Osing yang tersusun rapi. Bentuk bangunannya unik, dengan struktur kayu tradisional, atap khas, dan tata ruang yang sarat filosofi kehidupan suku Osing. Banyak yang masih mempertahankan interior asli, sehingga pengunjung bisa merasakan langsung suasana rumah tradisional yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
3. Desa Budaya dengan Masyarakat Osing yang Hidup Harmonis
Dengan luas sekitar 177 hektar dan jumlah penduduk 2.569 jiwa, Kemiren menjadi salah satu pusat komunitas suku Osing, suku asli Banyuwangi yang memiliki bahasa, tradisi, dan identitas budaya berbeda dari masyarakat Jawa pada umumnya. Berkunjung ke desa ini wisatawan bisa melihat bagaimana budaya Osing hidup di keseharian masyarakat. Mulai dari cara mereka berbahasa, memasak, hingga menjalankan ritual adat.
4. Pusat Seni Tradisi Banyuwangi
.png)
Foto: Kelas Tari Gandrung
Kemiren bukan hanya desa, tapi juga “panggung terbuka” untuk berbagai kesenian tradisional. Wisatawan dapat menemukan pertunjukan seperti:
- Tari Gandrung, ikon Banyuwangi yang sarat nilai sejarah.
- Burdah, seni musik religi dengan nuansa khas pesisir timur Jawa.
- Angklung Paglak, pertunjukan musik di atas menara bambu di tengah sawah.
- Mocoan Lontar Yusup, tradisi membaca naskah kuno berbahasa Jawa Kuno.
Semua kesenian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda, menjadikan Kemiren tempat terbaik untuk menyaksikan bagaimana tradisi itu tetap hidup dalam komunitas.
5. Dua Festival Besar yang Wajib Masuk Bucket List
Kemiren menjadi tuan rumah dua festival budaya berskala nasional:
- Barong Ider Bumi, ritual bersih desa yang menghadirkan arak-arakan barong sebagai penolak bala.
- Festival Tumpeng Sewu, momen ketika seluruh warga membuat ribuan tumpeng yang disajikan di depan rumah untuk disantap bersama.
Keduanya mencerminkan kekuatan komunitas dan spiritualitas masyarakat Osing. Suasana desa saat festival berubah menjadi sangat meriah, penuh warna, dan sangat fotogenik untuk para pemburu konten.
.png)
Foto: Tradisi Barong Ider Bumi
6. Surganya Kuliner Autentik dan Produk UMKM
Kemiren juga pusat kuliner tradisional Banyuwangi. Makanan yang paling terkenal adalah pecel pitik, hidangan ayam kampung dengan bumbu kelapa parut yang digunakan dalam upacara adat. Selain itu, ada kopi Kemiren Jaran Goyang yang aromanya kuat dan menjadi favorit wisatawan.
UMKM setempat juga menawarkan kerajinan tangan, seperti batik bermotif Gajah Oling, Kangkung Setingkes, dan lainnya. Semua produk dijual langsung oleh masyarakat sehingga wisatawan bisa sekaligus mendukung ekonomi lokal.
7. Desa Adat yang Sudah Menerapkan Konsep Smart Kampung
Meski tradisional, Kemiren sudah terintegrasi dengan program Smart Kampung dari Pemerintah Banyuwangi. Layanan administrasi desa sudah berbasis digital, akses internet tersedia di beberapa titik publik, dan aktivitas pelayanan dibuat lebih efisien. Ini membuat pengalaman wisata lebih nyaman tanpa menghilangkan atmosfer tradisionalnya.
8. Banyak Aktivitas Wisata Interaktif yang Bisa Dicoba
Kemiren menyediakan paket kegiatan yang memungkinkan wisatawan ikut merasakan budaya Osing secara langsung. Mulai dari belajar membatik motif Banyuwangi, mencoba bermain gamelan, hingga mengikuti kelas tari Gandrung bersama pelatih lokal. Kegiatan ini biasanya dipandu oleh pemandu berpengalaman sehingga cocok untuk keluarga, komunitas, maupun wisatawan yang ingin belajar budaya secara lebih mendalam.
9. Penginapan Homestay yang Nyaman dan Ramah Wisatawan
.png)
Foto: Melihat Kehidupan Warga Osing
Bagi yang ingin merasakan suasana desa di pagi dan malam hari, tersedia sederet homestay yang dikelola warga. Fasilitasnya lengkap, mulai dari kamar luas, kamar mandi bersih, teras depan, hingga ruang tengah untuk bersantai. Menginap di homestay juga memberi kesempatan berinteraksi langsung dengan keluarga Osing dan mencicipi masakan rumahan khas Banyuwangi.
10. Destinasi Ramah Rombongan dan Mudah Direservasi
Kemiren sangat terbuka untuk menerima wisatawan dalam jumlah besar, seperti komunitas, instansi, atau sekolah. Pengelola desa sudah terbiasa menyiapkan paket kunjungan lengkap mulai dari tur budaya, pertunjukan seni, hingga makan bersama. Wisatawan hanya perlu melakukan reservasi sebelumnya agar semua kegiatan bisa dipersiapkan dengan matang.