
HALAMANRIAU.COM- Allah SWT Berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 183
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS.Al-Baqarah [2] : 183)
Makna Puasa
Kata “Ash-shiyamu”(الصِّيَامُ) berakar dari kata “Shaama” (صَامَ) yang berarti “berpuasa”. Kata “Ash-shiyamu”(الصِّيَامُ) adalah bentuk kata benda (ism) yang berarti “puasa”.
Lebih spesifiknya, “الصِّيَامُ” adalah bentuk kata benda yang disebut “masdar” (مصدر) yang merupakan bentuk kata benda yang digunakan untuk menunjukkan tindakan, proses, atau melaksanakan puasa.
Sementara pengertian puasa secara syari’at adalah menahan diri dari makan, minum, dan perbuatan yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa puasa adalah salah satu cara untuk mencapai derajat takwa dengan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, seperti makan, minum, dan berjima’. Puasa juga dapat membantu seseorang mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan kesabaran.
Ayat di atas dimulai dengan seruan “Hai orang-orang yang beriman” (يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا), bermakna bahwa kewajiban berpuasa itu hanya dibebankan kepada orang mukmin yang mukallaf (dewasa dan berakal). Tegasnya, tidak ada kewajiban bagi orang kafir, orang yang belum dewasa, atau orang yang sakit jiwa.Dan di ujung ayat disebutkan; “agar kamu bertakwa” (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْن).
Kata “La’alla” dalam Al Qur’an memiliki beberapa makna, diantaranya “Ta’lil” (alasan) dan “Tarajji ‘indal mukhathab” (harapan dari sisi orang diajak bicara).
Dengan makna ta’lil dapat kita artikan bahwa alasan diwajibkannya puasa adalah agar orang yang berpuasa itu bisa mencapai derajat taqwa. Dengan makna tarajji dapat kita artikan bahwa orang yang berpuasa berharap dengan perantaraan puasanya ia dapat menjadi orang yang bertaqwa.
Imam Al Baghawi memperluas tafsiran tersebut dengan penjelasannya; “Maksudnya, mudah-mudahan kalian bertaqwa tersebab kalian melaksanakan puasa, karena puasa adalah wasilah menuju taqwa. Sebagian ahli tafsir juga menyatakan demikian.
Tapi perlu dijelaskan secara spesifik, bahwa kata “La’alla” lebih mengarah pada makna pencapaian, bukan tujuan. Artinya, taqwa atau karakter yang mulia adalah pencapaian atau hasil dari puasa yang kita lakukan, bukan tujuan. Karena tujuan puasa atau segala bentuk ibadah yang kita lakukan semata hanya untuk mengharap ridho Allah.SWT.
قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ
“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS.Al-An’am [6] : 162)
Ada hadits yang menyebutkan tentang puasa sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan.
صُومُوا تَسْلَمُوا “Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat.” (HR. Ahmad)
Hadits di atas semakin menegaskan bahwa sehat bukan tujuan puasa, tapi pencapaian, manfaat, atau efek positif yang kita dapatkan dengan berpuasa. Karena tujuan puasa hanya untuk mengharapkan ridho dan rahmat-Nya.
Fungsi Puasa
Rasulullah.SAW bersabda;
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan dapat menjadi sarana untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT bagi dosa-dosa yang telah lalu, jika dilakukan dengan iman dan mengharap pahala.
Puasa dapat membantu kita untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan menahan diri dari perbuatan yang tidak baik, serta melatih kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan.
Puasa dapat menumbuhkan rasa empati dan merasakan kesulitan yang dialami oleh orang lain, seperti rasa lapar dan dahaga. Dan pada intinya puasa membantu kita untuk membersihkan jiwa atau merekonstruksi fungsi jiwa untuk meningkatkan kesadaran spiritual. Dalam Islam, puasa tidak hanya dianggap sebagai ibadah spiritual, tetapi juga memiliki manfaat fisik dan mental. Oleh karena itu, banyak umat Islam yang menjalankan puasa sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan dan spiritualitas mereka.
Alfin el Fikri–SSQ merupakan nama pena dari Ervent Nilil Fikri (E. Nilil Fikri, A.Md.), seorang penulis yang menekuni dunia literasi sejak usia dini. Ia lahir di Pekanbaru pada 7 Agustus 1971. Pendidikan formal ditempuh di SDN 01 Sukamaju, MTsN Pekanbaru, dan MAN 1 Banda Aceh. Ia pernah berkiprah sebagai pengajar, manajer pendidikan, dan jurnalis, serta aktif menulis di berbagai media nasional. Saat ini ia fokus menulis buku di Gramedia Pustaka Utama serta aktif dalam dakwah Muhammadiyah sebagai Sekretaris I LP2M PWM Riau, Sekretaris I Majelis Tabligh PDM Kota Pekanbaru, Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah PDM Kota Pekanbaru, dan Manager SAI-MU Pekanbaru.