Islam Berkemajuan melalui Spirit Ramadhan

HALAMANRIAU.COM- Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesempatan berjumpa dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, teladan utama dalam membangun kehidupan beragama yang mencerahkan dan memajukan peradaban.

Ramadhan adalah bulan istimewa. Bukan hanya karena kita berpuasa, tetapi karena Ramadhan adalah bulan pendidikan ruhani dan sosial. Dari sinilah lahir semangat Islam Berkemajuan, yaitu Islam yang berlandaskan wahyu, dikelola dengan akal sehat, dan diwujudkan dalam amal nyata untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

Tujuan Puasa: Melahirkan Takwa

            Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa. Takwa bukan hanya rajin ibadah, tetapi kesadaran untuk hidup benar, jujur, adil, dan bertanggung jawab. Takwa melahirkan integritas pribadi dan kepedulian sosial. Inilah fondasi Islam Berkemajuan.

Islam Berkemajuan: Iman yang Mencerahkan

Islam sejak awal adalah agama kemajuan. Wahyu pertama bukan perintah ritual, tetapi perintah membaca:اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ

Ini menegaskan bahwa Islam mendorong ilmu, nalar, dan pencerahan. Puasa Ramadhan melatih kita mengendalikan hawa nafsu agar akal dan nurani berjalan seimbang.

 Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Artinya: Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minum. (HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa puasa harus berdampak pada akhlak dan perilaku sosial. Tanpa itu, puasa kehilangan makna Spirit Ramadhan dan Tantangan Kekinian.

            Kita hidup di era yang penuh tantangan: maraknya hoaks dan ujaran kebencian, krisis kejujuran dan korupsi, sikap individualistik dan melemahnya empati, serta gaya hidup konsumtif.

            Di sinilah Ramadhan menjadi momentum perbaikan. Puasa mendidik kita untuk: jujur di tengah budaya manipulasi, sederhana di tengah konsumerisme, peduli di tengah individualisme, dan adil di tengah ketimpangan sosial. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan. (QS. An-Nahl: 90)

Islam Berkemajuan menuntut umat Islam hadir sebagai kekuatan moral dan sosial, bukan hanya simbol keagamaan.

Pandangan Ulama dan Tokoh Muhammadiyah :

            Imam Al-Ghazali رحمه الله menjelaskan puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi membersihkan hati dan memperbaiki akhlak. Puasa sejati adalah puasa yang menjauhkan diri dari kezaliman dan kemungkaran.

            KH. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa Islam harus membawa kemajuan, pencerahan, dan kebermanfaatan nyata.

Beliau mengajarkan Islam yang membebaskan umat dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan.

Dalam semangat Muhammadiyah, Islam Berkemajuan berarti: beragama dengan ilmu, beribadah dengan kesadaran, dan beramal untuk kemanusiaan.

Ramadhan Melahirkan Manusia Berkemajuan

 Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain (HR. Ahmad)

            Inilah puncak spirit Ramadhan. Setelah Ramadhan, kita diharapkan menjadi pribadi yang: lebih jujur dalam pekerjaan, lebih santun dalam bermedia sosial, lebih peduli kepada fakir miskin, dan lebih aktif dalam kebaikan sosial. Islam Berkemajuan bukan wacana, tetapi aksi nyata.

            Mari kita jadikan Ramadhan sebagai energi perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan. Dari puasa lahir takwa, dari takwa lahir akhlak, dan dari akhlak lahir kemajuan umat.

Semoga Allah SWT menerima ibadah kita, membimbing langkah kita, dan menjadikan kita bagian dari umat Islam yang berkemajuan, mencerahkan, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Darussalim Siregar, S.Pd.I. aktif dalam kegiatan dakwah dan kemasyarakatan. Ia terlibat di Korps Muballigh Muhammadiyah Kota Pekanbaru dan Majelis Tabligh Muhammadiyah Wilayah Riau, serta berkhidmat sebagai muballigh di Dewan Masjid Indonesia Provinsi Riau. Saat ini ia juga menjadi pengurus Masjid Raya Nurul Wathan Provinsi Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *