Iran Murka ke G7: Ancaman Sanksi Dinilai Campur Tangan dan Munafik

HALAMANRIAU.COM- Hubungan Iran dan negara-negara Barat kembali memanas. Pemerintah Iran secara terbuka mengecam pernyataan kelompok negara maju G7 yang mengancam akan menjatuhkan sanksi tambahan jika Teheran dianggap menentang atau menekan gelombang aksi protes di dalam negeri.

Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui Telegram, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut sikap G7 sebagai bentuk campur tangan langsung terhadap urusan dalam negeri Republik Islam Iran.

“Kementerian Luar Negeri Iran mengecam pernyataan negara-negara G7 yang merupakan bentuk campur tangan langsung dalam urusan dalam negeri Republik Islam Iran,” demikian pernyataan Kemlu Iran, dikutip dari RIA Novosti, Sabtu (17/1).

Sebelumnya, negara-negara G7 menyatakan keprihatinan atas situasi politik dan keamanan di Iran. Mereka mendesak pemerintah Iran untuk menahan diri dalam menghadapi aksi demonstrasi yang terus meluas.

Namun bagi Teheran, pernyataan tersebut justru dianggap sebagai wajah asli standar ganda Barat. Iran menilai sikap G7 yang dipimpin Amerika Serikat sebagai bukti nyata kepalsuan dan kemunafikan dalam isu hak asasi manusia.

Gelombang protes di Iran sendiri mulai merebak sejak akhir Desember 2025. Pemicu utamanya adalah melonjaknya inflasi dan melemahnya nilai tukar mata uang rial, yang menekan kehidupan ekonomi masyarakat.

Situasi semakin memanas sejak 8 Januari, setelah Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi 1979, menyerukan peningkatan aksi perlawanan. Pada hari yang sama, pemerintah Iran memblokir akses internet di sejumlah wilayah.

Di berbagai kota, unjuk rasa berubah menjadi bentrokan terbuka dengan aparat keamanan. Demonstran meneriakkan slogan-slogan anti pemerintah, sementara laporan menyebutkan adanya korban luka dan tewas, baik dari kalangan demonstran maupun aparat.

Ketegangan kian bertambah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan keras. Pada akhir Desember, Trump menyebut AS siap mendukung serangan baru terhadap Iran jika negara itu tetap melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya.

Trump bahkan mengancam akan melancarkan serangan besar jika ada pengunjuk rasa yang terbunuh, seraya mengklaim akan berdiri di pihak rakyat Iran “jika diperlukan”.

Dengan situasi dalam negeri yang bergolak dan tekanan internasional yang meningkat, Iran kini berada di persimpangan krusial antara stabilitas internal, tekanan Barat, dan ancaman konflik yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *