Ibadah Ritual dan Ibadah Sosial: Dua Sayap Keislaman

HALAMANRIAU.COM- Tidak jarang kita menemukan, ada orang yang ibadahnya (sholat, mengaji, dan ritual lainnya) sangat rajin tapi masih suka marah, suka menggunjing dan menyakiti hati orang lain, dll. Ada juga yang ibadahnya ‘seadanya’ bahkan boleh dibilang malas tapi hubungan dengan orang lain bagus, akrab, ramah, royal, dll.

Tentu idealnya orang yang rajin ibadah (ritual) bagus juga ibadah sosial (muamalahnya). Karena ibadah itu mestinya berdampak pada kehidupan sosial.

Islam adalah sebuah sistem yang lengkap, mengatur ibadah ritual dan ibadah sosial. Ibadah Ritual berhubungan dengan Allah, Ibadah Sosial berkaitan dengan sesama.

Ibadah ritual dan ibadah sosial saling melengkapi dan seimbang seperti dua sayap. Ibadah ritual membangun spritual, ibadah sosial menguatkan ikatan hubungan sesama.

Sebagai contoh, bagaimana Al Quran dalam surat Al Ma’un menghubungkan antara ibadah ritual dengan sosial. Dikatakan bahwa pendusta agama berkaitan dengan kealfaan memelihara anak yatim dan memberi makan orang miskin. Rasulullah Saw. bersabda, “Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim berada di surga seperti begini, beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dengan jari tengah dan merenggangkan sedikit antara kedua jari tersebut.” [H.R. Bukhari]

Ibnu Katsir menjelaskan, orang yang mendustakan agama atau mendustakan hari pembalasan itu adalah orang yang berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, menganiaya haknya dan tidak memberinya makan serta tidak memperlakukannya dengan perlakuan yang baik.

Al Ma’un ini mempraktikkan ajaran agama (spritual) melalui amal nyata sosial. Al-Ma’un menegaskan bahwa iman sejati terwujud dalam kepedulian sosial bahkan mengkritik “kesalehan ritual” yang tidak dibarengi dengan “kesalehan sosial”.

Menarik dengan sepotong kalimat seorang komica beberapa waktu yang lalu. Ramai media sampai jadi headline news berbagai media, bahkan berujung pelaporan. Tapi kita tidak membahas dinamikanya, tapi fokus ke pernyataannya. Sang komica mempertanyakan kebaikan orang yang sholatnya tidak pernah bolong. Ia mengatakan (kalimatnya kurang lebih) “seakan-akan kalau sholatnya tidak pernah bolong berarti orang baik, apa iya? orang yang sholatnya tidak pernah bolong bukan otomatis baik tapi rajin, iya”.

Sekali lagi, kita tidak membahas pro-kontra pernyataan, tapi merenungi sepotong kalimat itu. Karena sejak awal Islam, Umar bin Khattab Ra sudah mewanti-wanti, menasehati tentang orang yang rajin shalat tetapi masih berperilaku buruk. “Tidak ada kebaikan pada shalat seseorang yang tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.”

Dalam Quran disebutkan “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.” (Q.S. Al Ankabut: 45)

Ini sebuah peringatan bagi kita agar beragama tidak hanya terhenti dalam ritual formalitas tetapi harus berdampak sosial. Seorang pejabat yang rajin shalat agar menjauhi perilaku korup, misalnya.

Menarik sedikit tema Milad ke-113 Muhammadiyah tahun 2025 yang mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.” Tema ini mengandung pesan kuat tentang pentingnya memperkuat gerakan sosial-ekonomi yang berkeadilan dan berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Teologi Al-Ma’un mengajarkan etos sosialisme yang sering dekat dengan ideologi “kiri”. Logika Al-Ma’un memandang kelompok elit kuat (penjabat, oligarki, akademisi, dsb.) sebagai tersangka moral karena tidak berpihak kepada kaum lemah tertindas (miskin, bodoh, dsb.) sehingga cenderung anti kemapanan. Dalam logika inilah Muhammadiyah sebagai “gerakan nahi munkar” untuk membela kaum lemah dan melawan ketidakadilan sosial.

Pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan surah Al Ma’un kepada murid-muridnya, berulang-ulang, berbulan-bulan. dan tidak mau beranjak kepada ayat berikutnya.

Para muridnya bahkan sampai merasa bosan dan bingung. Mereka bertanya kenapa al Ma’un terus yang dikaji padahal mereka sudah sangat hapal di luar kepala. Dengan kalimat sederhana, Kiyai Dahlan menjawab, apakah sudah diamalkan?

Kyai Dahlan menekankan agar tidak hanya paham maknanya tetapi bagaimana mengamalkannya. Bukan hanya menghafal atau membaca tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah melaksanakan pesan surat Al Ma’un dalam bentuk amal nyata.

Saat mengajarkan Surat Al Ma’un berulang-ulang kepada para muridnya memunculkan kesadaran bahwa Islam harus diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama dalam menolong kaum lemah.

 Inilah dasar ideologi Islam berkemajuan yaitu tidak hanya berhenti pada teori tetapi harus diwujudkan dalam amal sosial. akhirnya para murid-murid Kyai Dahlan bergegas mengumpulkan orang miskin dan anak yatim dan memberikan makanan dan pakaian pada mereka.

Muhammad Himsar Siregar, M.Si. aktif dalam kegiatan dakwah dan keorganisasian Muhammadiyah sebagai Pengurus Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau. Ia mengenal Muhammadiyah sejak Madrasah Tsanawiyah sebagai kader Tapak Suci dan menyelesaikan pendidikan Magister di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ia pernah berkiprah di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia serta menjadi Tenaga Ahli Anggota DPR RI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *