Catatan Redaksi: Merawat Kebeningan Ramadan di Tengah Perbedaan

HALAMANRIAU.COM- Ramadan selalu datang dengan cahaya yang sama, tetapi sering kita sambut dengan riuh yang berbeda. Perbedaan penetapan awal puasa bukanlah hal baru dalam perjalanan umat Islam. Ia adalah bagian dari dinamika ijtihad, dari usaha manusia membaca tanda-tanda langit dengan akal dan keyakinannya.

Sejarah Islam mengajarkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Ia bukan retakan, melainkan ruang dialog. Ia bukan ancaman, melainkan bentuk keluasan rahmat.

Namun di era ketika suara mudah mengeras dan opini cepat menghakimi, perbedaan kerap kehilangan makna kebijaksanaannya. Kita terlalu sibuk mempertanyakan siapa yang paling tepat, alih-alih bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita menyambut Ramadan dengan hati yang lapang?

Puasa adalah latihan menahan diri. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan keinginan untuk merasa paling benar. Ramadan bukan sekadar soal tanggal, melainkan tentang kualitas batin yang kita bangun sejak malam pertama.

Manajemen halamanriau.com meyakini bahwa kedewasaan umat justru diuji pada saat-saat seperti ini. Ketika sebagian memulai lebih dulu dan sebagian menyusul, yang terpenting bukanlah seragamnya waktu, melainkan serempaknya niat untuk beribadah dan memperbaiki diri.

Langit mungkin berbeda titik pandangnya, tetapi tujuan kita sama: mencari ridha-Nya.
Di tengah perbedaan, kita diajak untuk merawat kebeningan. Sebab Ramadan yang sesungguhnya adalah ruang sunyi antara manusia dan Tuhannya—ruang yang tidak memerlukan perdebatan, melainkan keikhlasan.

Mari kita jaga persaudaraan, hormati keyakinan masing-masing, dan biarkan Ramadan menyatukan kita dalam nilai-nilai yang lebih dalam daripada sekadar hitungan hari.

Sebab yang menjadikan Ramadan bermakna bukanlah kapan ia dimulai, tetapi bagaimana ia kita jalani.
Manajemen halamanriau.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *