
HALAMANRIAU.COM- Peradaban adalah kebudayaan tertinggi, puncak kemajuan umat manusia. Dalam KBBI Peradaban bermakna kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin, dari kata “Adab”. Syed Muhammad Naquib Al Attas, seorang pemikir Peradaban Islam asal Malaysia mengatakan Adab adalah kombinasi antara iman, ilmu dan amal.
Karena Islam bukan hanya satu sistem ritual keagamaan saja, namun juga suatu kebudayaan yang lengkap (Prof. H.A.R Gibb). Lengkap karena Islam punya sejarah, ajaran, cara berfikir, konsep ibadah, nilai-nilai dan filosofi.
Kalau kita perhatikan kondisi dunia hari ini, penuh dengan pertikaian; Geopolitik dunia disibukkan dengan perang, konflik sosial dan bencana kemanusiaan. Seolah ini menjadi pesan bahwa dunia sedang menunggu peradaban baru. Gerbang peradaban terbuka bagi umat Islam, tapi tentu ada prasyarat untuk memasukinya.
Perkara yang paling utama dilakukan adalah menanamkan pondasi aqidah yang benar kepada umat dan meninggalkan kesyirikan. Islam akarnya adalah tauhid, beriman kepada Allah. Tauhid adalah sebab kejayaan peradaban sedangkan kesyirikan adalah sebab kehancuran. Bertauhid dan menjauhi kemusyrikan, itulah pelajaran nasehat Lukman kepada anaknya.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. {Q.S. Luqman: 13}
Mengenal Allah, mentauhidkan Allah mempercayai dan menyerahkan diri kepada-Nya harus menjadi hal paling mendasar bagi umat, meninggalkan hal yang mendasar ini berarti melakukan satu kelalaian amat besar.
Kedua, memasuki Gerbang peradaban adalah dengan Ilmu pengetahuan. Iqra’ adalah Wahyu pertama dalam Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Al Qur’an adalah sumber dari segala sumber peradaban.
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللَّهِ فَتَعَلَّمُوا مِنْ مَأْدُبَتِهِ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah jamuan (ma’dabah) Allah di muka bumi. Maka ambillah ilmu dari jamuan-Nya itu.” (HR: al-Bayhaqī dan ad-Dārimī).
Hadits tersebut menjelaskan bahwa Al-Qur’an kandungannya adalah ilmu yang penuh kebaikan serta manfaat. Ibarat hidangan lezat bagi ruh manusia.
Membangun jiwa Iqra’ adalah pondasi umat Islam sebagai khalifah. Ilmu pengetahuan adalah standar kemajuan. Membangun peradaban dimulai dari membangun Ilmu Pengetahuan. Jiwa Iqra’ dan pikiran maju harus menjadi identitas umat.
Negeri-negeri Islam pernah menjadi pusat peradaban dunia. Baghdad pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ilmuwan dunia untuk menambah ilmu mereka untuk ditebarkan ke negeri masing-masing. Maka Islam mewajibkan pemeluknya, baik laki-laki maupun perempuan menuntut ilmu.
طلب العلم فريضة على كل مسلم
“Menuntut Ilmu itu Wajib bagi Setiap Muslim dan Muslimah” (H.R. Ibnu Majah).
Atau dalam sebuah ungkapan yang terkenal:
أُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ
“Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”.
Ketiga, memasuki Gerbang Peradaban dengan Akhlakul Karimah.
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak.” (H.R. Al Baihaqi)
Kenapa akhlak? Ketika manusia sudah berakhlak/ beradab, maka segala hal akan mudah untuk diraih dan diperbaiki. Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh bagaimana membangun kehidupan yang berperadaban maju dengan menanamkan akhlak dan nilai-nilai luhur ilahiyah/ketuhanan.
Tantangan:
lompatan Tekhnologi informasi dan komunikasi, khususnya media sosial dan smartphone yang membuat informasi melimpah ruah (overload).
Semua orang bebas membuat opini dan menyebarluaskannya, istilah pak Prof. Haedar “Pemikiran jalanan” yang mesti kita saring agar tidak melahirkan sikap ekstrim yang dangkal dan naif.
Prof. Dr. Syed Muhammad Khairuddin Al Juned mengatakan The Digital Dehumanization, kita bukan lagi manusia, tapi kita seperti gadget. Begitu bangun pagi, hal pertama yang kita lakukan bukan langsung sholat, tapi melihat Gadget.
Perubahan ini bahkan berdampak pada pandangan keyakinan. Sebuah studi dari Pew Research Center, lembaga penelitian di Amerika Serikat merilis bahwa negara-negara di Asia Timur (Hongkong, Jepang, Korsel, Taiwan) dan masuk Vietnam di Asia Tenggara memiliki tingkat perpindahan agama tertinggi di dunia.
Banyak diantara mereka yang menganut agama yang berbeda dengan agama yang dianut sejak kecil, bahkan ada yang meninggalkan agama sama sekali, menjadi Agnostik (butuh pembuktikan keberadaan Tuhan).
Salah satu faktor perubahan dan pandangan keyakinan ini terjadi setelah mereka keluar rumah dan terpapar ide-ide baru.
Dunia memerlukan pikiran pembaharuan yang diharapkan lahir dari Institusi Islam, sekolah, univeritas, ormas; Muhammadiyah, NU, Persis, Al Irsyad, dll. Semuanya bergerak fleksibel menghadapi tantangan dan perubahan zaman, namun tetap berpegang teguh pada titah Ilahi.
Meminjam kalimat Dr. Saidul Amin, M.A, Rektor UMRI “Zaman semangkin berubah, kita tidak boleh lengah dan tanggap terhadap perubahan sebab orang yang gagal memahami perubahan akan dipijak-pijak oleh perubahan. Tapi ada satu ruh yang mesti kita pegang di setiap perubahan, Itulah nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan.
Mudah-mudahan Allah memberikan pertolongan dan Inayah-Nya untuk kita maju menuju Peradaban Islam.
Muhammad Himsar Siregar, M.Si. aktif dalam kegiatan dakwah dan keorganisasian Muhammadiyah sebagai Pengurus Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau. Ia mengenal Muhammadiyah sejak Madrasah Tsanawiyah sebagai kader Tapak Suci dan menyelesaikan pendidikan Magister di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ia pernah berkiprah di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia serta menjadi Tenaga Ahli Anggota DPR RI.