
PEKANBARU, HALAMANRIAU.COM- Di ketinggian Menara Dang Merdu Bank Riau Kepri, suasana tak sekadar hangat, tetapi juga sarat makna. Halal bihalal yang digelar oleh Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) bersama LAMR Provinsi Riau dan MUI Provinsi Riau berubah menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia menjelma menjadi ruang temu—tempat luka lama dijahit ulang, kepentingan dipertemukan, dan masa depan Riau dirajut bersama.
Di bawah semangat “Tali Berpilin Tiga”, tokoh-tokoh penting dari berbagai lini hadir: Penjabat Gubernur Riau, Ketua DPRD, anggota DPR-RI dan DPD-RI dapil Riau, hingga para bupati, wali kota, dan tokoh masyarakat. Mereka datang bukan hanya membawa jabatan, tetapi juga harapan yang sama, Riau yang lebih adil dan bermartabat.
Pertemuan silaturrahim ini dipimpin oleh Ketua FKPMR, Drs. H. Raja Mambang, MIT. Dalam forum yang berlangsung penuh keakraban, satu per satu gagasan mengalir, disambut terbuka oleh Pj Gubernur Riau SF Harianto dan para pemangku kepentingan lainnya, termasuk tokoh senior Riau, Saleh Djasit.
Dari dialog yang cair namun serius itu, lahirlah sejumlah komitmen penting. Para pemimpin sepakat untuk tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka berjanji memperkuat sinergi dan kolaborasi, merespons persoalan daerah dengan lebih peka, serta mempercepat pembangunan yang bukan hanya terlihat di angka, tetapi juga terasa di kehidupan masyarakat.
Di tingkat nasional, anggota DPR-RI dan DPD-RI dapil Riau menegaskan tekad untuk menjadi “penarik arus” kebijakan. Mereka berkomitmen memperjuangkan program pembangunan agar lebih banyak mengalir ke Riau, sekaligus memastikan keadilan anggaran, sebuah isu lama yang kerap menjadi bisik-bisik di balik gemerlap pembangunan.
Tak berhenti di seremoni, forum ini juga menyepakati langkah berkelanjutan. Silaturrahim seperti ini akan dijadikan agenda rutin, sebagai ruang evaluasi sekaligus konsolidasi perjuangan.
Bahkan, dibentuk pula Forum Komunikasi Anggota DPR-RI dan DPD-RI Dapil Riau, sebagai wadah strategis untuk menyatukan langkah di tingkat pusat.
Namun, yang paling terasa bukan hanya kesepakatan di atas kertas, melainkan getaran emosional di penghujung acara. Dalam tausyiah yang disampaikan Dr. H. Saidul Amin, MA, peserta diajak kembali pada esensi: bahwa membangun daerah tak cukup dengan kekuasaan, tetapi juga dengan keikhlasan dan persaudaraan.
Saat sesi maaf-memaafkan berlangsung, sekat-sekat yang mungkin selama ini tak terlihat perlahan mencair. Tangan-tangan saling menggenggam, senyum mengembang tanpa protokol, dan percakapan ringan mengalir seperti sungai yang akhirnya menemukan muaranya.
Tema yang diusung “Mengumpulkan yang terserak, menyambung yang putus, menyatukan yang tercerai, menuntaskan yang tertunda”, tak lagi sekadar slogan. Ia hidup di ruangan itu, berdenyut dalam setiap interaksi, dan mungkin, menjadi titik awal bagi babak baru perjalanan Riau.
Di meja makan bersama yang menutup acara, tak ada lagi sekat antara pejabat dan masyarakat. Yang tersisa hanyalah satu kesadaran sederhana: bahwa Riau hanya bisa maju jika semua pihak benar-benar duduk satu meja—bukan hanya hari ini, tetapi juga esok dan seterusnya.