Pulang ke Akar: Raja Juli Antoni Tarawih dan Bernostalgia di Masjid Masa Kecil

PEKANBARU, HALAMANRIAU.COM– Suasana haru dan hangat menyelimuti Masjid Al-Fida Muhammadiyah, Kota Pekanbaru, Selasa (03/03/2026). Malam itu bukan sekadar rangkaian ibadah Ramadhan biasa. Di saf yang sama, berdiri seorang menteri yang pernah menjadi bocah pengaji di tempat itu: Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan Republik Indonesia.

Kedatangannya bukan dalam balutan seremoni kaku pejabat negara. Ia hadir sebagai anak kampung yang pulang. Raja Juli Antoni ikut menunaikan sholat Isya berjemaah, kemudian mengisi taushiyah Ramadhan, serta melanjutkan sholat Tarawih dan Witir bersama para jamaah.

Dalam taushiyahnya, ia mengangkat tema yang begitu lekat dengan tugasnya sebagai Menteri Kehutanan: menjaga lingkungan sebagai bagian dari iman. Dengan suara tenang namun penuh penekanan, ia mengingatkan bahwa Islam telah lama mengajarkan etika ekologis. “Islam sangat mengerti dan konsisten dalam menjaga lingkungan. Bahkan dalam kondisi perang sekalipun, dilarang untuk menebang pohon,” ujarnya di hadapan jamaah. Pesan itu terasa bukan sekadar pidato formal seorang pejabat, melainkan refleksi personal seseorang yang tumbuh dari nilai-nilai agama sejak kecil.

Masjid Al-Fida bukan tempat asing baginya. Di sinilah ia dulu belajar membaca Al-Qur’an, mengenal huruf-huruf hijaiyah, dan menyerap nilai-nilai dasar keislaman. Malam itu, di antara lantunan doa dan salam-salaman usai tarawih, nostalgia pun tak terelakkan. “Ada banyak kenangan masa kecil saya di sini. Di sinilah tempat saya belajar Al-Qur’an,” tuturnya, dengan senyum yang tak bisa menyembunyikan rasa haru.

Kehadiran sang menteri membuat jamaah merasa bangga. Bukan semata karena jabatan yang kini disandangnya, tetapi karena ia tetap kembali ke akar. Bendahara Masjid Al-Fida Muhammadiyah, Admiril, menyebut Raja Juli Antoni sebagai putra terbaik yang dibesarkan dari masjid tersebut. “Kita semua sangat senang dan bangga dengan prestasi yang beliau dapatkan hingga menjadi orang penting di negeri ini. Kami sangat bergembira dengan kedatangan beliau. Terima kasih atas bantuannya, Pak Menteri,” ujarnya.

Malam itu ditutup dengan sesi foto bersama. Anak-anak Taman Bacaan Al-Qur’an berdesakan ingin berada di dekatnya. Teman-teman masa kecil dan kerabat lama ikut mengabadikan momen. Tak ada jarak berarti antara menteri dan jamaah; yang ada hanyalah kebersamaan dalam satu saf dan satu doa.

Ramadhan di Masjid Al-Fida tahun ini bukan hanya tentang ibadah rutin, tetapi tentang pulang. Tentang seorang anak yang kembali ke tempat ia pertama kali belajar mengeja ayat-ayat suci, kini dengan tanggung jawab menjaga hutan dan lingkungan negeri. Sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun langkah seseorang, akar tempat ia tumbuh akan selalu memanggilnya pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *