
Dalam sejarah pembaruan Islam di Indonesia, Muhammadiyah menegaskan satu hal yang sangat mendasar: bahwa kebangkitan umat harus dimulai dari pemurnian dan penguatan tauhid. Bukan sekadar sebagai doktrin teologis, tetapi sebagai kekuatan pembebas dan penggerak peradaban. Di sinilah tauhid menjadi pondasi gerakan Islam pondasi ideologis, moral, dan praksis.
Tauhid dalam perspektif gerakan bukan hanya pengakuan bahwa Allah itu Esa, melainkan kesadaran total bahwa hanya Allah yang berhak menjadi sumber nilai, hukum, dan orientasi hidup.
Tauhid menolak segala bentuk kemusyrikan, baik yang bersifat ritual maupun struktural, baik penyembahan berhala dalam bentuk tradisional, maupun “berhala-berhala modern” berupa materialisme, hedonisme, kekuasaan, dan kultus individu.
Allah ﷻ berfirman:“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (dengan seruan): ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’”(QS. An-Nahl: 36)
Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah tauhid selalu memiliki dua dimensi: afirmasi (menyembah Allah) dan negasi (menolak thaghut). Dalam semangat Muhammadiyah, ini berarti gerakan Islam tidak cukup hanya menguatkan ibadah individual, tetapi juga harus berani melakukan kritik terhadap sistem, budaya, dan praktik yang bertentangan dengan nilai tauhid.
KH. Ahmad Dahlan memulai gerakannya bukan dengan retorika politik, melainkan dengan pembinaan tauhid dan pemurnian akidah. Surah Al-Ma’un yang beliau ajarkan berulang-ulang bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang tanggung jawab sosial. Inilah wajah tauhid yang hidup, tauhid yang melahirkan kepedulian, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Tauhid yang benar melahirkan keberanian untuk melakukan tajdid (pembaruan). Ia membebaskan umat dari taklid buta, dari praktik keagamaan yang tidak berdasar, dan dari mentalitas pasrah terhadap kemunduran. Tauhid mendorong penggunaan akal, ilmu, dan ijtihad untuk membangun peradaban yang berkemajuan.
Rasulullah ﷺ bersabda:“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa iman yang puncaknya adalah tauhid tidak boleh pasif. Ia harus melahirkan gerakan amar ma’ruf nahi munkar. Dalam tradisi Muhammadiyah, amar ma’ruf nahi munkar tidak dimaknai secara sempit, tetapi sebagai upaya sistematis membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya: mencerdaskan kehidupan bangsa, menyehatkan umat, mengentaskan kemiskinan, dan menghadirkan keadilan sosial.
Tauhid sebagai pondasi gerakan memiliki beberapa karakter berkemajuan:
- Tauhid yang Mencerahkan
Tauhid membebaskan umat dari tahayul, bid’ah, dan khurafat. Ia menumbuhkan rasionalitas dan semangat mencari ilmu. Karena itu, pendidikan menjadi amal usaha utama. Sekolah, universitas, dan lembaga kader adalah manifestasi tauhid dalam bentuk institusional. - Tauhid yang Membebaskan
Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah. Tidak tunduk pada tekanan budaya yang menyimpang, tidak silau oleh kekuasaan, dan tidak terjerat kepentingan pragmatis. Gerakan yang bertauhid akan tetap kritis dan independen. - Tauhid yang Menggerakkan Amal
Tauhid bukan sekadar wacana, tetapi melahirkan aksi. Rumah sakit, panti asuhan, lembaga zakat, dan berbagai amal usaha adalah ekspresi konkret dari tauhid sosial. Ini sejalan dengan semangat Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Ibn Taimiyyah rahimahullah menyatakan: “Tauhid adalah asas segala kebaikan, dan syirik adalah asas segala keburukan.”
Dalam konteks gerakan, pernyataan ini menjadi peringatan: ketika tauhid melemah, gerakan bisa terjebak pada formalitas, perebutan posisi, atau kehilangan orientasi dakwah. Tetapi ketika tauhid kokoh, gerakan akan tetap bersih, moderat, dan berorientasi pada maslahat umat.
Muhammadiyah dengan visinya tentang “Islam Berkemajuan” pada hakikatnya berangkat dari tauhid yang progresif. Tauhid yang tidak anti-perubahan, tetapi justru menjadi landasan perubahan. Tauhid yang menjaga kemurnian akidah sekaligus mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban.
Karena itu, kader dan aktivis gerakan harus terus melakukan muhasabah tauhid:
Apakah perjuangan ini benar-benar karena Allah?
Apakah amal usaha ini menjadi jalan ibadah atau sekadar kebanggaan institusional?
Apakah dakwah ini membebaskan atau justru membebani?
Tauhid adalah titik awal dan titik akhir. Ia adalah niat yang melahirkan gerakan, nilai yang menjaga langkah, dan cahaya yang menerangi arah. Jika tauhid dijaga, gerakan akan tetap berkemajuan tanpa kehilangan akar spiritualnya.
Akhirnya, membangun gerakan Islam bukan pertama-tama membangun struktur, melainkan membangun kesadaran tauhid. Dari tauhid lahir tajdid. Dari tauhid lahir amal. Dari tauhid lahir peradaban. Dan selama tauhid menjadi pondasi, gerakan Islam akan tetap tegak, bersih dalam niat, luas dalam manfaat, dan kokoh dalam prinsip.
Abdul Hafidz AR, S.IP. lahir di Bantar pada 12 Maret 1990. Ia adalah penulis dan aktivis sosial yang aktif mengulas isu sosial, politik, dan kemasyarakatan melalui berbagai media daring. Berbasis di Pekanbaru, ia terlibat aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan dakwah Muhammadiyah.