
NEW DELHI, HALAMANRIAU.COM- Pemerintah India resmi mengoperasikan ruas jalan tol strategis di negara bagian Assam sebagai landasan pacu darurat pesawat militer dan sipil. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan pertahanan di wilayah timur laut yang berbatasan langsung dengan China.
Peresmian Fasilitas Pendaratan Darurat (Emergency Landing Facility/ELF) di Jalan Tol Nasional 37 (NH-37) dipimpin langsung Perdana Menteri Narendra Modi. Ia bahkan tiba di lokasi dengan mendarat menggunakan pesawat angkut berat C-130J Super Hercules milik Angkatan Udara India (IAF), Sabtu (14/2/2026).
Aksi simbolis tersebut mengirimkan pesan tegas: India menyiapkan opsi mobilitas udara alternatif jika pangkalan permanen menjadi sasaran serangan.
Landasan 4,2 Km untuk Rafale dan C-17
ELF di Moran, Assam, memiliki panjang 4,2 kilometer dan dibangun dengan spesifikasi setara landasan militer. Proyek senilai sekitar 100 crore Rupee atau setara Rp185 miliar itu mampu menahan jet tempur berbobot hingga 40 ton dan pesawat angkut berat hingga 74 ton.
Sebelum diresmikan, landasan darurat ini telah diuji dengan pendaratan jet tempur Rafale dan pesawat angkut strategis C-17 Globemaster.
Ruas tersebut dimodifikasi dengan penguatan fondasi dan aspal untuk menahan tekanan roda serta panas mesin jet saat lepas landas dan mendarat.
Antisipasi Konflik dengan China
Lokasi ELF hanya berjarak sekitar 300 kilometer dari Line of Actual Control (LAC), garis perbatasan sensitif India–China. Ketegangan kedua negara belum sepenuhnya mereda sejak bentrokan di Lembah Galwan pada 2020.
Dalam doktrin militer modern, pangkalan udara permanen menjadi target utama dalam skenario perang. Dengan mengubah jalan tol menjadi landasan cadangan, India dapat menerapkan konsep dispersed airpower—menyebar kekuatan udara ke berbagai titik untuk menghindari pelumpuhan dalam satu serangan.
Pejabat keamanan India menyebut fasilitas ini memangkas waktu respons militer di kawasan timur laut secara signifikan.
Indonesia Sudah Lebih Dulu
Konsep serupa bukan hal baru bagi Indonesia. TNI Angkatan Udara telah lama mempraktikkan latihan pendaratan darurat di jalan bebas hambatan sebagai bagian dari strategi pertahanan udara nasional.
Salah satu latihan paling dikenal berlangsung pada 1996 di Tol Surabaya–Gempol, Jawa Timur. Saat itu jet tempur F-16 Fighting Falcon dan Hawk 109/209 berhasil mendarat dan lepas landas di atas aspal jalan tol.
Latihan tersebut menegaskan bahwa infrastruktur sipil dapat dikonversi menjadi fasilitas militer dalam kondisi darurat. Dalam konteks negara kepulauan seperti Indonesia, fleksibilitas ini menjadi elemen penting menjaga kesinambungan operasi udara.
Fungsi Ganda
Selain untuk kebutuhan militer, fasilitas semacam ini juga dapat digunakan untuk evakuasi medis dan distribusi bantuan saat bencana alam.
India sendiri telah membangun lebih dari dua lusin ELF di berbagai wilayah, termasuk di Taj Expressway dan Purvanchal Expressway.
Langkah India dan pengalaman Indonesia menunjukkan satu pola: dalam strategi pertahanan modern, batas antara infrastruktur sipil dan militer semakin kabur. Jalan tol bukan lagi sekadar jalur logistik ekonomi, tetapi bisa menjadi bagian dari arsitektur pertahanan nasional.