Tawa di Usia Senja: Ketika Bahagia Hadir dari Sebuah Kunjungan Sederhana

PEKANBARU, HALAMANRIAU.COM- Di sebuah sudut tenang di Jalan Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, pagi Ahad (1/2) itu terasa berbeda. Di UPT Panti Sosial Husnul Khotimah, senyum-senyum merekah lebih lebar dari biasanya. Tawa pelan terdengar di sela obrolan, seolah usia tak lagi menjadi batas untuk merasakan kebahagiaan.

Hari itu, para penghuni panti yang akrab disapa opa dan oma kedatangan tamu istimewa. Komunitas Purnabakti Pindah SMA Negeri 3/5 hadir membawa lebih dari sekadar bingkisan. Mereka membawa waktu, perhatian, dan kehangatan.

Rombongan dipimpin Dra. Sri Yanti, sosok yang menyapa para lansia satu per satu dengan penuh empati. Tak ada jarak, tak ada formalitas. Semua larut dalam suasana kekeluargaan.

“Bahagia itu kita sendiri yang membuatnya,” ucap Sri Yanti lembut. “Belum tentu orang yang tinggal di rumah mewah merasa bahagia. Hidup sederhana, kalau dijalani dengan hati senang, justru terasa nyaman.”

Kalimat itu seolah menemukan maknanya di panti tersebut.

Usia Panjang, Cerita Panjang

Panti Sosial Husnul Khotimah dihuni para lansia berusia di atas 60 tahun. Yang tertua kini berusia 106 tahun, saksi hidup dari perjalanan panjang zaman. Setiap tahun, sekitar 80 lansia menjalani hari-hari mereka di tempat ini dengan rutinitas sederhana, makan teratur, dan perhatian dari para pengelola.

Mamah Rismawati, mewakili Ketua Yayasan Husnul Khotimah Ngadiono, S.Sos, menyambut hangat kedatangan rombongan. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian yang, bagi para lansia, jauh lebih berharga dari apa pun.

“Perhatian seperti ini membuat mereka merasa tidak sendiri,” ujarnya.

Ketika Musik Menjadi Obat

Suasana semakin hidup saat sesi bernyanyi dimulai. Lagu demi lagu dinyanyikan bersama. Bahkan, Sri Yanti tak ragu mengajak para opa dan oma untuk berjoget ringan. Tawa pecah. Mata berbinar.

Salah seorang opa, dengan langkah mantap dan suara lantang, maju ke depan. Dua lagu ia nyanyikan dengan penuh semangat. Tepuk tangan menggema. Di momen itu, usia seakan luruh. Yang tersisa hanyalah kegembiraan.

“Saya lihat mereka semua sehat dan bahagia,” kata Sri Yanti sambil tersenyum. “Itu terpancar dari wajah mereka.”

Kebahagiaan Tak Selalu Tentang Banyaknya

Menjelang akhir acara, rombongan membagikan konsumsi dan donasi untuk seluruh penghuni panti. Tidak mewah, tidak berlebihan. Namun cukup untuk menghangatkan hati.

Foto bersama pun diambil. Dalam bingkai kamera, tergambar wajah-wajah yang mungkin jarang mendapat sorotan, tetapi menyimpan ketulusan dan ketenangan yang dalam.

Kunjungan ini mengajarkan satu hal sederhana: bahagia tak selalu datang dari kemewahan atau usia muda. Kadang, ia hadir lewat pertemuan singkat, sapaan tulus, dan waktu yang dibagikan dengan sepenuh hati.

Di Panti Sosial Husnul Khotimah pagi itu, kebahagiaan memang sederhana. Namun, rasanya begitu nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *