HALAMANRIAU.COM- Slow travel merupakan sebuah tren perjalanan wisata yang lebih santai dengan waktu eksplorasi lebih lama serta mengutamakan destinasi yang bersuasana tenang dan tidak terlalu lama. Hal ini sejalan dengan tren pejalan yang tak hanya ingin bersenang-senang saat liburan, tetapi juga beristirahat alias healing dari padatnya aktivitas dan rutinitas harian.
Tren slow travel ini selaras dengan salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata yaitu Pariwisata Naik Kelas dengan menghadirkan pengalaman wisata yang lebih berkualitas bagi para wisatawan. Wisatawan tak hanya sekadar berwisata, tetapi juga bisa merasakan pengalaman yang lebih bermakna secara otentik serta menyatu dengan budaya lokal.
Indonesia memiliki beragam destinasi untuk slow travel. Dengan beragam desa wisata, wisata alam, bahkan kota-kota dengan budaya yang khas mampu menarik wisatawan dari berbagai belahan dunia untuk menikmati perjalan secara lebih Santai. Penasaran ada apa saja? Yuk Simak 7 destinasi untuk slow travel di Indonesia berikut ini!
- Buleleng, Bali

Destinasi slow travel di Indonesia yang wajib dikunjungi oleh para penggemar traveling sekaligus healing adalah Buleleng, Bali. Berada di Pulau Bali bagian utara, suasana di Buleleng berbanding terbalik dengan Bali bagian Selatan yang penuh hingar bingar. Di sini, suasana jauh lebih tenang, sepi, dan waktu seolah berjalan dengan lebih lambat daripada biasanya.
Bagi kalian yang ingin healing, Buleleng menawarkan beragam destinasi alam dan budaya yang khas. Mulai dari Taman Nasional Bali Barat yang menjadi habitat alami Burung Jalak Bali, Pulau Menjangan dengan alam bawah lautnya yang cantik, Pantai Lovina dengan wisata melihat lumba-lumba, Pemandian Air Panas Banjar, dan beberapa air terjun seperti Munduk, Banyumala, serta Sekumpul. Lengkap sekali bukan?
Tak hanya itu, Singaraja yang merupakan ibukota Kabupaten Buleleng rupanya pernah menjadi ibukota Provinsi Bali di masa lampau. Kalian bisa menyaksikan beragam bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda maupun bangunan arsitektur khas Bali sembari berkeliling Kota Singaraja yang tenang.
Jadi, bila ingin menikmati suasana Bali yang lebih tenang dengan konsep slow travel, maka Buleleng adalah pilihan yang tepat dan wajib dikunjungi. Setuju?
- Ende, Nusa Tenggara Timur

Bergeser ke arah timur, ada satu destinasi untuk slow travel yang tak boleh dilewatkan. Ia adalah Ende di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Ende dikenal sebagai tempat lahirnya Pancasila karena di sinilah Ir.Soekarno memiliki gagasan akan dasar negara ketika tengah diasingkan oleh Kolonial Belanda. Kalian juga dapat mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno selama berada di Ende. Tak heran jika Ende merupakan salah satu tempat bersejarah di Indonesia yang bernilai tinggi.
Bukan hanya itu, Ende juga memiliki sejumlah destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan. Mulai dari Kawah Tiga Warna Gunung Kelimutu yang begitu menawan, Gunung Api Iya yang menjulang di Selatan Kota Ende, hingga Pantai Batu Biru yang eksotis dengan bebatuan berwarna biru kehijauan.
Ende juga cocok untuk slow travel karena menawarkan pengalaman budaya nan otentik dengan masyarakat lokal. Kalian bisa berkunjung ke Kampung Adat Wologai untuk menyaksikan proses menenun kain ikat maupun sekadar mencicipi Kopi Flores yang mendunia.
Dengan suasana yang tenang, masyarakat yang ramah, ditambah alam serta budaya yang memikat, pastinya cocok sekali untuk berlama-lama menikmati waktu di Ende.
- Kawasan Candi Muaro Jambi, Jambi
Pulau Sumatra juga memiliki destinasi yang cocok untuk slow travel yaitu Kawasan Candi Muaro Jambi di Provinsi Jambi. Destinasi ini sangat cocok bagi para pecinta budaya dan Sejarah dengan suasana tenang dan damai.
Kawasan Candi Muaro Jambi merupakan Kawasan percandian terluas di Asia Tenggara dengan luas mencapai 3.981 hektar. Kawasan ini diduga sudah ada sejak Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu di abad 7-12 Masehi. Di masa lampau, tempat ini menjadi semacam area Pendidikan bagi kaum rohaniwan Buddha dari berbagai tempat, selain sebagai tempat peribatan.
Kawasan Candi Muaro Jambi menawarkan pengalaman eksplorasi mendalam di berbagai percandian yang tersebar di Kawasan ini seperti Candi Tinggi, Candi Astano, Candi Gumpung, dan masih banyak lagi. Suasananya tenang dan rimbun oleh pepohonan sehingga sejuk walaupun saat siang hari. Yang menarik adalah untuk berkeliling Kawasan ini kalian dapat menyewa sepeda Listrik sehingga lebih ramah lingkungan.
Tak hanya itu, wisatawan juga dapat merasakan pengalaman nan lebih otentik dengan menginap di homestay sekitaran Kawasan Muaro Jambi. Pastinya akan sangat menyenangkan menikmati suasana tenang di sini sambil membayangkan betapa sucinya Kawasan ini di masa lampau.
Mau yang lebih menarik? Kalian bisa mencoba citarasa khas Jambi melalui pengalaman makan siang Istimewa bersama komunitas masyarakat di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi tepatnya di Pasar Dusun Karet. Pastinya penuh dengan kearifan lokal yang akan semakin menambah wawasan dan kecintaan kita terhadap budaya Indonesia.
- Yogyakarta

Siapapun pasti setuju bila Yogyakarta cocok untuk traveling. Semua yang pernah ke sana selalu merasa rindu untuk kembali. Kabar baiknya lagi adalah Yogyakarta masih menjadi destinasi wisata bagi banyak orang, termasuk para penganut slow travel.
Yogyakarta masih menjadi magnet untuk mereka yang hendak “healing” sejenak dari sibuknya rutinitas. Walau banyak yang bilang Yogyakarta sudah terlalu padat dan ramai terutama saat musim liburan, tetapi tidak menyurutkan minat wisatawan untuk mengunjunginya.
Perpaduan antara budaya Jawa yang adiluhung dan keramahan masyarakat setempat terus terjaga di tengah hiruk pikuk kehidupan modern Yogyakarta masa kini. Tak heran bila Yogyakarta menjadi salah satu destinasi unggulan kategori “Wellness Tourism” yang tengah dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia di tahun 2025 ini sebagai implementasi dari program Pariwisata Naik Kelas.
Kita dapat merasakan berbagai pengalaman untuk menyegarkan jiwa, raga, dan pikiran dengan cara-cara tradisional khas Jawa seperti bermeditasi, mandi kembang, lulur dan spa ala Jawa, atau sekadar meleburkan diri di desa-desa wisata bersama masyarakat setempat untuk lebih mengenali budaya Jawa maupun diri sendiri. Semuanya mampu menghadirkan pengalaman traveling yang lebih berkualitas bagi para wisatawan.
Siap untuk healing ke Jogja?
- Purwakarta, Jawa Barat

Destinasi wisata yang cocok untuk slow travel tapi tak perlu jauh-jauh dari Jakarta? Purwakarta di Provinsi Jawa Barat merupakan pilihan yang tepat! Bisa dicapai dengan berkendara melalui jalan tol maupun menggunakan kereta api dalam waktu singkat, kita sudah bisa tiba dan menikmati liburan di Purwakarta.
Purwakarta memiliki suasana kota yang asri, tenang, tetapi tetap terlihat modern. Banyak yang menjulukinya sebagai Kota Pensiun karena suasananya yang jauh dari hiruk pikuk dan hingar bingar kota besar. Apalagi di kotanya banyak pepohonan dan area taman sehingga cocok untuk refreshing sekaligus healing dengan murah meriah.
Ada beberapa orang yang bilang bahwa Purwakarta merupakan Bandung versi Mini karena suasananya mirip dengan Kota Bandung. Hal itu tidak salah karena Purwakarta memiliki sejumlah bangunan tua yang masih difungsikan sebagai kantor pemerintahan, kafe, restoran, bahkan museum. Jadi buat yang bosan dengan suasana Bandung, bisa banget healing sejenak ke Purwakarta untuk pengalaman baru.
Di kotanya sendiri, ada sejumlah destinasi yang bisa dikunjungi seperti Museum Diorama Gedung Kembar, Bale Panyawangan Diorama Nusantara, Bale Indung Rahayu, Galeri Wayang Purwakarta, Alun-Alun Purwakarta, dan Taman Air Mancur Sri Baduga dengan Situ Buleud dan pertunjukan air mancur setiap malam akhir pekan. Semuanya bisa dicapai dengan berjalan kaki keliling kota. Lelah berjalan kaki? Tenang saja karena ada Bus Wisata Kidang Pananjung yang akan membawa kalian berkeliling kota Purwakarta.
Bosan dengan suasana kota, kalian dapat bergeser ke Kabupaten Purwakarta yang memiliki beberapa destinasi wisata seperti Waduk Jatiluhur, Sentra Keramik Plered, Panjat Tebing Gunung Parang, Cikao Park, dan Gunung Bongkok. Mau kulineran? Jangan lewatkan Sentra Sate Maranggi di dekat Stasiun Plered dan kudapan khas Sunda di Rumah Makan Ibu Haji Ciganea yang legendaris tersebut.
Yuk kita slow travel dan nikmati waktu secara slow di Purwakarta!
- Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara

Sulawesi Utara tidak hanya terkenal akan alam bawah lautnya seperti yang ada di Bunaken, Likupang, dan Selat Lembeh. Provinsi tersebut juga masih memiliki destinasi di wilayah dataran tinggi Minahasa yang cocok untuk slow travel. Tak lain dan tak bukan adalah Tomohon.
Hanya berjarak kurang lebih 1 jam berkendara dari Manado melintasi jalanan berliku-liku menembus hutan dan pegunungan Minahasa, kita sudah bisa tiba di Tomohon. Kota Tomohon berada di ketinggian 900-1100 mdpl sehingga suasananya asri dan sejuk cenderung dingin. Berbeda kontras dengan Kota Manado yang panas sehingga banyak masyarakat Manado yang sering ke Tomohon untuk sekadar healing maupun refreshing menikmati udara segar.
Kota Tomohon memiliki julukan sebagai Kota Bunga. Hal ini karena lokasinya yang berada di pegunungan sehingga memungkinkan beragam tanaman termasuk aneka bunga tumbuh dengan subur di sini. Tak hanya itu, Tomohon juga merupakan pusat industri bunga di Sulawesi Utara sehingga makin mempertegas julukan Kota Bunga tersebut. Tak heran jika Tomohon International Flower Festival juga diadakan di sini dan masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata yang berhasil mendatangkan wisatawan dari berbagai penjuru.
Tomohon cocok bagi penganut slow travel karena suasana kotanya tenang, asri, sejuk, dan damai. Selain itu, ada beragam destinasi wisata yang dapat didatangi dalam jarak yang tidak terlalu jauh dan memiliki nuansa alami. Mulai dari Air Terjun Tekaan Telu, Bukit Doa Mahawu, Gunung Mahawu, Gunung Lokon, Gunung Empung, Pagoda Ekayana, Gardenia Country Inn, Danau Linow, Hutan Pinus Danau Belerang Lahendong, Pemandian Air Panas Leilem, Bukit Kaisanti, dan Puncak Tetenana Kumelembuai.
Jangan lewatkan juga untuk mencicipi kuliner khas Minahasa seperti Tinutuan, Ayam Woku, Tinoransak, Halua Kenari, dan Nasi Bungkus Daun Laikit. Perpaduan pesona alam Tanah Minahasa dengan kulinernya yang berbumbu kuat dan pedas ditambah dengan keramahan masyarakat Minahasa membuat waktu seolah berjalan lebih lambat selama berada di Tomohon. Penasaran? Silakan saja coba sendiri slow travel ke Tomohon!
- Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku

Di sudut timur Indonesia, terdapat satu destinasi wisata yang cocok untuk slow travel. Pamornya mungkin tidak setenar Raja Ampat. Namun, keindahannya layak diperhitungkan. Inilah Kepulauan Kei di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku.
Kepulauan Kei merupakan definisi sejati dari konsep slow travel. Di sini, semuanya seolah berjalan lambat. Bagaimana tidak? Kepuluan Kei didominasi oleh daerah dataran rendah dan pesisir dengan Pantai-pantai berpasir putih yang sangat cantik. Air lautnya bahkan memiliki gradasi nan indah bila dilihat dari udara. Bayangkan menginap di salah satu homestay tepi Pantai dan disambut dengan suasana tersebut. Rasanya hidup tak pernah senikmat itu bukan?
Kota terbesarnya, Tual, juga tergolong santai. Masyarakatnya banyak yang berprofesi sebagai nelayan dan pedagang dengan ritme kehidupan yang tidak sesibuk kota besar lainnya. Melihat suasana kota maupun Pulau Kei, mungkin membuat iri sebagian orang karena masyarakatnya tak perlu jauh-jauh untuk healing. Cukup naik motor atau bahkan membuka pintu rumah dan langsung disuguhi pemandangan pantai berpasir putih membentang luas dengan laut biru gradasi nan memanjakan mata.
Kepulauan Kei terdiri dari tiga pulau utama yaitu Kei Besar, Kei Kecil,dan Kei Dullah. Untuk destinasi wisata kebanyakan berada di Pulau Kei Kecil. Wisatanya pun hampir Sebagian besar berupa pantai. Sejumlah pantai cantik yang dapat dikunjungi adalah Pantai Ohoidertawun, Pantai Ngiarwarat, Pantai Ngursarnadan, Pantai Ngurbloat, Pantai Ngilngof, Pantai Ngur Vat Namsir Ohoi Wab, Pantai Madwaer, Pantai Ohoidertutu, Pasir Timbul Pantai Ngurtavur, dan Pulau Bair.
Jika kalian pecinta wisata Bahari khususnya pantai, maka wajib untuk meluangkan waktu dengan slow travel ke Kepulauan Kei. Pantai-pantai di sini merupakan definisi pantai yang sempurna untuk berlibur di Indonesia. Seharian di pantai atau berwisata dari satu pantai ke pantai lainnya tak akan membosankan bila pantainya secantik di Kepulauan Kei.
Jangan lewatkan pula mencicipi kuliner khas Kei seperti Enbal (olahan singkong khas Kei), Lat-lat (Rumput laut segar dicampur dengan berbagai bumbu dan sambal), Kue Langar, Pisang Goreng Enbal dengan cocolan sambal, dan tentunya olahan seafood yang segar langsung dari laut Kepulauan Kei. Pastinya semakin nikmat sambil menyaksikan indahnya pantai dan ditemani kehangatan masyarakat Kei.
Yuk Mari Kita ke Kei!
Itulah 7 destinasi wisata untuk Slow Travel di Indonesia yang cocok untuk Healing Sejenak. Apalagi beberapa di antaranya antimainstream dan belum terlalu banyak dikenal orang. Sehingga suasana dijamin lebih tenang dan liburan pun akan lebih menyenangkan.
Yuk jangan terlalu sibuk hingga lupa untuk rehat sejenak. Kemasi barangmu, luangkan waktumu, dan nikmati waktu liburanmu secara santai tanpa terburu-buru dengan slow travel di Indonesia aja. Happy traveling, happy healing!